browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Let’s get close to St Aloysius Gonzaga “The Patron of Youth” :)

Posted by on May 5, 2015

images (1)

 

Hi Sahabat Algoz..in this first post, saya ingin sedikit berbagi mengenai pelindung UKM PKKMK Aloysius Gonzaga. Sesuai dengan namanya nih ya, pelindung kami adalah St Aloysius Gonzaga. Siapa sih beliau ? ada yang kenalkah disini? wkwk…kalau ada yang belum mari saya jelaskan sejelas-jelasnya 😀

St. aloysius Gonzaga adalah seorang putra bangsawan bernama Marchese dari Castiglione , nama aslinya adalah Aloysius ( Luigi) Gonzaga, beliau lahir pada tanggal 9 Maret 1568. Pada umur 4 tahun St.Aloysius Gonzaga Luigi diajak oleh ayahnya dalam ekspedisi latihan untuk mengenal dunia militer *kebayang nggak sih umur segitu udah harus memeriksa pasukan? tapi ini nggak berlangsung lama , si kecil Aloysius terkena malaria sehingga harus membuatnya berhenti aktivitasnya. Nah, disinilah St.Aloysius bertobat dari kebangsawanannya dan memulai kehidupan yang lebih mengutamakan hal batiniah. Dengan kegembiraan besar si kecil Aloysius menyanyikan mazmur.Ketika ayahnya menginginkannya sebagai ahli waris St.Aloysius lebih mengejar langkah lain.

Dari gambarnya nih ya Aloysius Gonzaga dilukiskan dengan gambaran seorang laki-laki muda mengenakan jubah hitam dengan superpli putih. Atributnya berupa bunga lili, yang melambangkan kesucian pribadinya. Salib yang dipegangnya menunjukkan kesetiaan dan pengorbanan sepanjang hidup. Tengkorak menunjukkan karyanya di tengah-tengah orang yang menghadapi kematian. Rosario menunjukkan devosinya kepada Santa Perawan Maria.

Pada tahun 1577, Luigi dan adiknya, Rodolfo, dibawa ke Firenze kepada seorang bangsawan kawan ayah mereka, adipati besar Francesco de’Medici untuk mempelajari adat kebiasaan kehidupan para bangsawan. Keluarga Medici adalah salah satu bangsawan yang paling berkuasa di Eropa padawaktu itu. Namun, dalam keluarga itu sekaligus terjadi berbagai macam intrik yang penuh dengan kebusukan. Dalam suasana yang demikian, Luigi yang berjiwa peka menarik diri untuk tidak ikut ambil bagian dalam perlombaan-perlombaan dan permainan-permainan mereka yang baginya hanyalah sebuah pertunjukan kosong. Hanya dengan cara itu ia dapat menghindari dosa. Ia demikian muak dengan cara hidup mereka hingga pada suatu hari, di dalam Gereja Maria Annunziata, ia menyatakan tekad yang kuat untuk tidak pernah menyakitkan Tuhan dengan berbuat dosa.

Dari Firenze, Luigi dikirim ke Mantoa untuk tinggal bersama sanak saudaranya. Salah satu dari mereka mempunyai kapel pribadi yang sangat menarik. Di sini ia membaca buku “Kehidupan Para Kudus” dan mendaraskan mazmur-mazmur. Dari situlah muncul niat Luigi untuk menjadi imam. Ia kembali ke Castiglione pada tahun 1580. Dalam perpustakaan keluarga, ia menemukan satu eksemplar ringkasan ajaran Kristiani karangan Petrus Kanisius. Luigi memakai buku itu sebagai bahan meditasi setiap hari. Carolus Borromeo, Kardinal Milano, suatu ketika berkunjung ke Castiglione dan sangat terkesan dengan anak tersebut. Dalam pembicaraan, Kardinal yang terkenal suci itu mendengar bahwa Luigi belum menerima komuni pertama. Maka beliau mempersiapkan anak itu. Pada tanggal 22 Juli beliau sendiri menerimakan komuni pertama bagi Luigi. Sesudah itu, Luigi selalu merindukan komuni mingguan. Maklum, pada waktu itu, komuni harian belum menjadi kebiasaan. Selain itu, Luigi berpuasa tiga hari seminggu, meditasi pagi dan sore, serta rajin menghadiri misa setiap hari sejauh mungkin.

Pada tahun 1581, Maria dari Austria, janda Kaisar Maximillianus II, pulang kembali ke Spanyol melewati Italia. Atas keputusan ayahnya, keluarga Luigi mengantar janda Kaisar sampai ke Madrid. Selanjutnya, Luigi menjadi pelayan di sana dan diangkat menjadi ksatria dalam Ordo Santo Yakobus. Luigi semakin yakin bahwa kehidupan bangsawan bukanlah panggilan hidup untuk dia. Ia mempunyai seorang Bapa pengakuan Yesuit di Madrid. Makin lama makin timbul hasrat kuat untuk menjadi seorang Yesuit. Hasrat tersebut memperoleh peneguhan ketika ia berdoa di depan patung Bunda Maria di gereja Yesuit. Ia segera pergi kepada Bapa pengakuannya untuk memberitahukan keputusannya.
Namun, Bapa pengakuannya menerangkan bahwa ia perlu mendapat izin dari ayahnya.

Mendengar keinginan putra tertuanya itu, sang Markis sangat marah. Baik ayah maupun anak sama-sama teguh pendiriannya masing-masing, maka terjadi ketegangan dalam hubungan mereka. Sang Markis membawa Luigi kembali ke Castiglione pada tahun 1584, lalu mengirim dia bersama dengan adiknya untuk sebuah perjalanan ke berbagai istana di Italia dengan maksud agar Luigi berubah pikiran. Namun Luigi tetap tidak mau mengubah keputusannya. Karena jemu, akhirnya sang ayah memberikan persetujuan. Awal November tahun 1584, Luigi meninggalkan warisannya dan pergi menghadap Pater Jendral Claudio Aquaviva di Roma. Ia masuk novisiat Sant’ Andrea pada tanggal 25 November 1585.

Luigi baru berumur tujuh belas setengah tahun, namun nampak sudah dewasa karena latar belakang dan perjuangannya. Di novisiat, ia mengalami tuntutan hidup yang lebih ringan dari pada apa yang telah ia praktikkan selama di rumah. Di bawah pengarahan pembimbingnya, ia tidak boleh melanjutkan olah matiraga sekeras yang biasa ia lakukan.

Luigi memberikan diri secara total dalam proses pembentukan menjadi seorang Yesuit. Setelah mengakhiri masa novisiat, ia pindah ke Kolese Romawi untuk menyelesaikan studi filsafat. Ia telah mulai studi filsafat ketika masih tinggal di istana Raja di Madrid. Ia mengucapkan ketiga kaul kebiaraan: kaul kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan pada tanggal 25 November 1587, dan menerima tahbisan rendah pada awal tahun 1588. Dalam masa studi teologi, Luigi terbukti sebagai mahasiswa cemerlang dengan otaknya yang encer. Dalam tahun 1589, ia kembali ke Castiglione untuk sementara waktu guna mendamaikan saudaranya Rodolfo dengan adipati Mantua. Setelah berhasil, ia kembali lagi ke Roma pada bulan Mei 1590.

Awal tahun 1591, wabah kelaparan melanda Italia. Luigi mengumpulkan dana bagi daerah- daerah yang terkena wabah dengan cara mengemis. Ia juga bekerja langsung merawat orang-orang sakit, mengangkut orang-orang yang hampir mati di jalan, membawanya ke rumah sakit, memandikan mereka dan mempersiapkan mereka untuk penerimaan sakramen-sakramen. Sekalipun fisiknya berontak ketika berhadapan dengan penyakit, darah dan bau yang tidak sedap, Luigi dengan gigih terus membantu mereka yang membutuhkan pertolongan. Ketika kembali dari rumah sakit pada suatu malam, ia berkata kepada Pater Bellarmino, pembimbing rohaninya, “Saya merasa hari-hari saya tidak akan lama lagi. Saya merasakan kerinduan begitu besar untuk bekerja dan melayani Tuhan, sehingga saya tidak bisa percaya Tuhan telah memberikan kerinduan itu sekiranya Ia tidak bermaksud memanggil saya dengan segera.”

Karena demikian banyak Yesuit muda mulai terkena wabah penyakit itu, Pater Superior melarang Luigi untuk kembali ke rumah sakit. Ketika ia mengajukan lagi permohonan agar boleh melayani orang-orang yang sakit, ia diberi izin tetapi hanya untuk membantu di Rumah Sakit Santa Perawan Maria Penghibur. Di sana pasien-pasien berpenyakit menular biasanya tidak diterima. Luigi pergi ke sana. Ia mengangkat seorang pasien dari tempat tidurnya, merawatnya dan mengembalikan lagi ke tempat tidur. Ternyata orang itu membawa penyakit menular. Luigi ketularan penyakit itu dan terpaksa beristirahat pada tanggal 3 Maret 1591.

Untuk sementara waktu penyakitnya bertambah hebat, tetapi kemudian Luigi menjadi sembuh dan infeksinya mereda. Akan tetapi, penyakit itu telah membuat fisiknya menjadi demikian lemah dan tak pernah pulih kembali. Panas demam disertai batuk menyerangnya selama beberapa minggu. Kesehatannya semakin mundur. Dalam doanya, Tuhan memberitahu bahwa ia akan meninggal pada oktaf Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Saat hari itu tiba, yaitu tanggal 21 Juni 1591, ia tampak lebih segar dan bercahaya. Ia memohon Sakramen Bekal Suci, tetapi Pembesarnya menolak karena kelihatannya Luigi tidak akan mati. Malam itu, ia mohon lagi agar diberi Sakramen Bekal Suci. Supaya ia tenang, lalu diatur agar ia bisa menerimanya. Dua orang imam menungguinya di tempat tidur Luigi pada malam itu. Sesaat sesudah pukul 22.00, rasa sakit lambungnya yang terluka menghebat dan tak tertahankan lagi. Ketika kedua Yesuit itu mendekat, mereka mengamati bahwa wajahnya mulai berubah, dan mereka sadar Luigi muda akan segera wafat. Ia mengarahkan pandangan matanya kepada salib yang ia pegang, dan sewaktu mencoba menyebut nama Yesus, ia meninggal.

Aloysius Gonzaga meninggal pada usia dua puluh tiga tahun *Usia yang masih sangat muda ya kan? :”) dan dimakamkan di Gereja Anunsiasi, di samping Kolese Romano. Kemudian jenasahnya yang suci dipindahkan ke Gereja Santo Ignatius. Di sana jenasahnya dihormati hingga hari ini. Ia diberi gelar beato oleh Paus Paulus V pada tanggal 19 Oktober 1605, dan dinyatakan sebagai Santo bersama dengan Santo Stanislaus Kostka oleh Paus Benediktus XII pada tanggal 31 Desember 1726. Pestanya dirayakan setiap tanggal 21 Juni. Ia adalah santo pelindung dan teladan orang-orang muda.

 “It is better to be the Child of God than King of the whole world.”

Nah, itu dia sekilas mengenai St.Aloysius Gonzaga , Our Petron 😀

Semoga kita dapat mengikuti teladan St.Aloysius Gonzaga ya ^^

See you next time sahabat Algoz, Berkah dalem :))

Logo PKKMK ST ALOYSIUS GONZAGA

Logo PKKMK ST ALOYSIUS GONZAGA